Jumat, 05 Oktober 2012

Hidup Yang Penuh Harapan



Tiba-tiba pintu ruang bersalin terbuka. Seorang dokter dengan pakaian khusus keluar. "Istri Anda dalam keadaan baik. Namun sayang keadaan bayinya membahayakan jiwa istri Anda. Ada satu hal yang harus Anda putuskan, keselamatan istri Anda atau bayinya. Saya tahu hal ini sulit, namun kami telah berusaha sekuat mungkin. Akhirnya kami harus menemui Anda, sebab keputusan Anda amat menentukan. Jika Anda sudah siap, silahkan kami dihubungi dan menandatangani formulir ini", setelah berkata demikian dokter tersebut memeluk bahu pria yang diajak bicara.
Sorot matanya di balik kaca mata yang tebal memberi semangat pada pria yang tubuhnya gemetar.
Rata Penuh Pria yang sedari tadi gelisah, sekarang bertambah gemetar setelah menerima berita yang meluncur dari mulut dokter yang memeluknya. Wajahnya jadi pucat seperti mayat. Butiran keringat dingin sebesar kacang kedelai bermunculan di dahinya. Mulutnya menganga, lidahnya kelu. Matanya nanar. Setelah berusaha menelan ludahnya, ia berusaha mengeluarkan kata-kata.
"Dokkkkter, .....mmm. bbberi kesempatan saaaya untuk berdoa". Kepala dokter tersebut menggangguk, tanda setuju. Ruangan tunggu kelahiran bayi malam itu sepi menggigit, sinar lampunya nampak pudar.
Suasana saat itu bisu dingin menutupi tembok sekeliling ruangan itu. Pria itu kemudian tertunduk. Wajahnya ditenggelamkan atas kedua telapak tangannya yang menopangnya. Suara tangis tertahan bercampur kepedihan dan rasa takut menimbulkan suara yang keluar dari mulutnya seperti suara berguman, tidak jelas. Suasa kembali sunyi . Kemudian ia perlahan bangkit, berjalan menuju perawat yang berdiri menunggunya.
"Suster, katakan kepada dokter, istri saya perlu diselamatkan, sedapat-dapatnya selamatkan juga anak saya. Saya telah melihat harapan."

Jumat, 14 September 2012

KOTBAH YANG DAPAT BERJALAN

pernahkah kalian mendengar tentang Kotbah yang dapat Berjalan?

Pada suatu sore di tahun 1953, para pejabat dan reporter berkumpul di stasiun Kereta Api Chicago menantikan kedatangan peraih Nobel Perdamaian tahun 1952. Seorang pr
ia raksasa, setinggi 2 meter, dengan rambut acak-acakan dan kumis panjang melangkah ke luar dari Kereta Api.

Sementara juru foto sibuk memotretnya, para pejabatr kota mendekatinya dan berjabatan tangan seraya mengatakan alangkah mereka merasa diri terhormat dapat bertemu dengannya.


Orang-orang Muda & Globalisasi

Kemajuan di era globalisasi saat ini mulai terasa, banyak perubahan-perubahan yang sangat signifikan baik dari segi pemeritahan, perdagangan dan pendidikan, kita menyadari dan merasakan dampak itu baik disengaja maupun tidak, namun beda halnya bagi kaum muda mereka menangapi kemajuan global itu sebagai awal dari kebebasan hidup bagi mereka, banyaknya pengaruh luar yang masuk sehinga para kaum muda ini tidak lagi bias membedakan mana yang boleh di tiru mana yang tidak, semenjak mereka merasa nyaman dengan hal itu mereka akan menjalaninya walau kadang kala resiko yang diakibatkannya sangat besar, pendidikan formal tidak lagi menjadi senjata yang ampuh untuk mengembleng mereka, justru kadang kala ditmpat mereka dididik disitulah pergaulan yang tidak masuk diakal sehat kita mulai menyebar, mulai dari obat-obatan terlarang, minuman keras, sampai sex bebas, fasilitas pendidikan pun dijadikan alat transaksi, namun kita juga tidak bias menyalahkan para pendidik karena kemampuan dan tenaga mereka pun terbatas sementara para anak didik mereka sepuluh kali lipat banyaknya dari para pendidik ini tadi, sementara pihak pemerintah pun mulai merealisasikan tentang pembinaan kaum muda, yang jadi pertanyaan bagai mana para orang tua mereka ?.........